Review Komputer Tablet ZTE Light Tab

ZTE Light Tab
Beritamandiri - Review Komputer Tablet ZTE Light Tab. Selama ini, keberadaan komputer tablet masih sebatas sebagai sarana hiburan saja. Nah, tidak ingin mengikuti fungsi kompetitor lainnya seperti itu, ZTE Indonesia meluncurkan Tablet PC Android 3G 7” layar sentuh yang diberinama ZTE Light Tab.

Tidak hanya memberikan hiburan, tablet ini memberikan fitur bisnis lebih kaya dengan desain yang ringan hanya 403 gram, ramping karena bisa digengam dengan satu telapak tangan sehingga mudah dibawa dan difungsikan meski sambil berjalan kaki.

"Perangkat ini mudah digunakan, dan mudah untuk mengakses internet sehingga memberikan pengalaman baru atas hiburan ataupun akses internet dengan jangkauan yang luas," ungkap Susanto Sosilo, Direktur Divisi Perangkat dari ZTE Indonesia.

Sebelum diperkenalkan di Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (12/4/2012), perangkat yang ditawarkan dengan harga Rp 2,999,999 ini telah diluncurkan di Eropa, Jepang, Malaysia.

ZTE Light Tab juga didukung panggilan suara pada dual band UMTS 2100 Mhz / 900 Mhz, dan akses internet pada jaringan HSUPA dengan kecepatan unduh hingga 7.2 Mbps dan kecepatan unggah hingga 5.76 Mbps.

Perangkat ini juga dilengkapi kemampuan pemrosesan pintar yaitu 512Mb RAM dan 512 Mb ROM dan berdasarkan Sistem Operasi Android 2.2 (Froyo).

ZTE Light Tab menyediakan aplikasi bisnis yang kaya melalui platform terbuka Android-nya dan memberikan garansi akses ke ribuan aplikasi pihak ketiga dan layanan konten yang nyaman. ZTE Light Tab juga didukung penuh oleh beragam layanan Google, pengaturan akun email berganda, aplikasi desktop widget dan online document reading serta fitur editing.

Dan dengan kekuatan baterai litium sebesar 3,400mAh yang dapat dilepas, ZTE Light Tab dapat digukan selama 10 jam waktu penggunaan atau 5,5 jam penggunaan untuk menonton video.

Dampak Cuaca dan Gangguan Ekosistem



Beritamandiri -
Dampak Cuaca dan Gangguan Ekosistem. Fenomena serangan ulat bulu di permukiman dan lahan pertanian desa-desa di Probolinggo, Jawa Timur, mengindikasikan terganggunya keseimbangan ekosistem setempat. Pola tanam monokultur, hilangnya predator dan parasit, serta cuaca ekstrem menyebabkan populasi herbivora itu tak terkontrol.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nuramaliati Prijono dan ahli serangga LIPI, Hari Sutrisno, serta Asisten Deputi Kehati dan Pengendalian Kerusakan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup Antung Deddy Radiansyah, Selasa (29/3).

Siti, yang juga ahli burung, menjelaskan, penebangan pohon dan perburuan burung menjadi salah satu sebab jumlah burung pemakan ulat berkurang. Dampaknya adalah populasi ulat tidak mengalami tekanan alami.

Selain itu, ledakan populasi ulat juga bisa dipicu kondisi cuaca. Saat kondisi panas, kupu-kupu bertelur hingga ratusan butir. Saat hujan, telur tersebut menetas bersama-sama.

Hari Sutrisno menjelaskan, cuaca panas mendorong makhluk hidup melepaskan karbon dioksida dalam jumlah lebih besar. Karbon dioksida yang melimpah merangsang tanaman giat berfotosintesis. Ulat meresponnya dengan menambah porsi makan.

Hari menyebut parasit ulat, yaitu lebah tabuhan, dapat mengontrol laju populasi ulat. Saat ini, populasi lebah kecil tersebut jauh berkurang karena ekosistemnya tertekan pertanian intensif.

Lebah pengisap madu di rumput liar itu mati karena penggunaan pestisida antihama. ”Ini konsekuensi manusia yang tidak menjaga keseimbangan ekosistem,” katanya.

Kontrol lebah tabuhan terhadap ulat bulu, menurut Hari, lebih efisien dibandingkan dengan hewan predator burung, yang memiliki sifat pemilih makanan. Keberadaan bulu-bulu pada ulat mengurangi selera makan burung.

Hari menjelaskan, ciri berbulu pada ulat yang menyerang desa di Probolinggo menunjukkan spesiesnya dari famili Lymantriidae. Bulu ulat menyebabkan iritasi pada permukaan kulit luar karena kandungan biokimia pada bagian ujungnya. Ini menyebabkan rasa gatal dan panas.

Terkait penanganan ledakan ulat, Hari menyarankan petugas hati-hati saat menggunakan pestisida berbahan kimia. Ia khawatir pestisida juga mematikan serangga lainnya.

Antung Deddy belum banyak mendapatkan informasi dan laporan kasus ledakan populasi ulat itu. Namun, ia memprediksi salah satu penyebabnya pola tanam monokultur.

Pola tanam itu menurunkan keanekaragaman hayati lingkungan. Dampaknya, hewan/tanaman pengendali spesies tertentu musnah.

Antung menyarankan pola tanam dikembalikan ke heterogen. ”Tanaman heterogen lebih tahan serangan hama daripada monokultur,” katanya.

Ulat Bulu di Probolinggo Fenomena Baru


Beritamandiri Online - Peneliti Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Aunu Rauf PhD, mengatakan, hama ulat bulu tanaman mangga di Probolinggo, Jawa Timur, adalah jenis baru yang belum pernah terekam keberadaannya di Indonesia. Dalam ranah konservasi biologi, hewan semacam itu terindikasi disebut sebagai spesies alien yang bisa berpengaruh terhadap ekosistem yang ada.

"Dalam kepustakaan hama tanaman mangga, hama jenis ini belum pernah tercatat," ungkap Aunu yang menyelesaikan studi doktoral dalam bidang ilmu serangga (entomologi) di University of Wisconsin Madison, Amerika Serikat, Rabu (6/4/2011).

Meskipun demikian, ia membantah bahwa hama ulat bulu tersebut adalah spesies baru. "Bukan spesies baru ya, hanya hama ini belum pernah ditemukan sebelumnya. Jadi ini hanya pertama kalinya menyerang," tuturnya.

Ia sebelumnya memperkirakan bahwa ulat bulu tersebut adalah spesies Lymantria marginata. Spesies tersebut dikenali dari motif sayapnya yang berbeda antara jantan dan betina saat dewasa. Jantan bersayap gelap, sedangkan betina bersayap putih berbintik.

Beberapa ahli sempat menduga bahwa hama yang menyerang Probolinggoi tersebut adalah Dasychira inclusa. Namun, ia mengatakan, "Ini lain. Kalau Dasychira inclusa morfologinya tidak begitu. Hama Probolinggo ini warna sayapnya putih."

Beberapa hari lalu, Aunu baru kembali dari Probolinggo untuk pengambilan sampel ulat. "Untuk sekarang baru sedang proses pemeriksaan dahulu untuk diidentifikasi jenisnya," katanya.

Ia mengatakan, serangan hama di Probolinggo adalah faktor alam. Pesatnya populasi ulat bulu yang diikuti serangan ke tanaman mangga mungkin terjadi karena predator spesies ini, seperti burung atau serangga lain, berkurang populasinya. (Kompas)

Tahun 2500 Bumi Tak Layak Huni

Seorang anak pada 9 Maret lalu berjalan dengan membawa payung agar terlindung dari hujan di Jammu, India. Foto ini dibuat dalam rangka peringatan soal perubahan iklim yang telah mengacaukan pola iklim global.

Beritamandiri Online - Tahun 2500 Bumi Tak Layak Huni. Pemanasan global, selain menyebabkan perubahan iklim, juga menaikkan suhu bumi rata-rata 0,2 derajat celsius per 10 tahun atau 2 derajat celsius dalam 100 tahun. Kenaikan suhu sebesar itu menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 20 sentimeter. Demikian diungkap Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Prof Dr Jumina, di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Senin (11/4/2011).

Lebih lanjut, Jumina mengatakan, tanpa ada upaya serius dan sistematis untuk mengurangi emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) ke atmosfer bumi, suhu rata-rata permukaan bumi yang pada tahun 2010 berada pada kisaran 14,6 derajat celsius akan naik menjadi sekitar 25 derajat celsius pada tahun 2500.

"Artinya, bumi tak akan lagi menjadi tempat hunian yang nyaman bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan. Bahkan sangat mungkin manusia tak akan dapat bertahan hidup pada kondisi seperti itu," tutur Jumina.

Terjadinya peningkatan emisi CO2 secara terus-menerus itulah yang menyebabkan para pakar lingkungan merasa sangat prihatin. Usaha untuk mengurangi emisi CO2 pun dilakukan, antara lain melalui penandatanganan Protokol Kyoto pada 1999. Sayang, Amerika Serikat sebagai penyumbang emisi CO2 terbesar kedua di dunia hingga saat ini belum bersedia menandatangani protokol tersebut.

"Begitu pula China yang merupakan penghasil emisi CO2 terbesar di dunia," ungkapnya kemudian.

Data menunjukkan, sumbangan sektor energi terhadap emisi CO2 dan fenomena pemanasan global sangat besar. Dengan demikian, demi mengurangi tingkat emisi CO2 domestik dan menekan laju terjadinya pemanasan global, maka penerapan konsep energi bersih sangat diperlukan. "Energi bersih bisa diartikan sebagai energi ramah lingkungan, atau energi yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan," jelas Jumina.

Bila Indonesia dapat menerapkan konsep energi bersih, maka sistem energi yang dibangun bukan hanya menghasilkan ketahanan energi dalam arti terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan energi nasional, tapi juga dapat mewujudkan terciptanya lingkungan yang sehat, nyaman, dan lestari. "Sehingga sistem energi yang diterapkan akan bervisi jauh ke depan tanpa harus merampas hak dasar generasi penerus," kata Jumina.

Kenyataan, pengembangan teknologi energi bersih dan ramah lingkungan di Indonesia belum memuaskan. Keterbatasan kemampuan SDM merupakan faktor utama. Untuk itu, PSE UGM bekerja sama dengan Sekolah Pascasarjana UGM menggelar seminar sehari "Pengembangan Sumberdaya Manusia Bidang Energi Bersih Menuju Ketahanan Energi Nasional", di gedung Pascasarjana UGM, Selasa (12/4/2011).

Seminar menampilkan beberapa narasumber, antara lain anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr Ir Tumiran MEng; Direktur Energi, Telekomunikasi, dan Informatika Bappenas Ir Jadhie J Ardajat MSi; Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Dr Ing Evita Legowo; Direktur Energi Primer PLN Ir Nur Pamudji MEng; Kepala Badan Pengkajian Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian Ir Arryanto Sagala; serta Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Ir Luluk Sumiarso MSc. (Kompas)

Separuh Harimau Liar di Dunia Ada di India

Dari seluruh harimau liar di alam bebas di seluruh dunia, separuhnya tinggal di India.

Beritamandiri Online - Separuh Harimau Liar di Dunia Ada di India. Ada kabar gembira dari survey terbaru yang dilakukan terhadap populasi harimau di India. Ternyata, jumlah harimau India naik dari 1.411 ekor di tahun 2007 menjadi 1.706 ekor pada tahun ini. Kabar buruknya, saat populasi meningkat, lingkungan tempat tinggal harimau malah menyempit.

Menurut pengamat satwa liar, menjaga kelestarian lingkungan hidup harus dijadikan prioritas oleh pemerintah. Sayangnya, koridor tempat tinggal harimau merupakan habitat alami yang sepanjang waktu telah dipisahkan oleh perkembangan dan aktivitas manusia.

Dikutip dari BBC, 14 April 2011, satu abad lalu India punya sekitar 100 ribu ekor harimau. Setelah itu, angkanya menurun drastis. Diperkirakan, 97 persen harimau punah karena perburuan liar dan menyusutnya habitat mereka.

Sebagai informasi, India punya lebih dari 45 ribu kilometer persegi kawasan hutan di 39 lokasi yang ditujukan untuk tempat tinggal harimau. Namun menurut Jairam Ramesh, menteri lingkungan hidup India, penyusutan kawasan hutan terjadi dalam kecepatan yang membahayakan.

“Perburuan liar juga menjadi masalah besar. Angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata Rajesh Gopal, peneliti dari Project Tiger, badan konservasi harimau di India. “Perburuan liar diorganisir dengan cara serupa dengan perdagangan narkotika,” ucapnya.

Pemerintah India juga kesulitan dalam menghentikan perburuan liar. Salah satu alasannya adalah karena teknik yang digunakan oleh kartel di balik perburuan itu selalu berubah. Selain itu, produk yang berasal dari harimau juga merupakan komoditas menggiurkan.

Seperti diketahui, permintaan atas tulang, kuku, dan kulit harimau dari negara-negara seperti China, Taiwan, dan Korea sangat tinggi untuk dijadikan obat-obatan tradisional. Padahal, dari sekitar 3.500 ekor harimau liar yang tinggal di alam bebas di seluruh dunia, lebih dari separuhnya tinggal di India.Bold

Cara Bersosial Semut Merah Seperti Facebook

Semut menggunakan sistem sinyal kimiawi dalam berkomunikasi.

Beritamandiri Online - Cara Bersosial Semut Merah Seperti Facebook . Sekelompok peneliti dari Stanford University berkesimpulan bahwa cara semut bersosialisasi dengan rekan-rekannya mirip dengan orang bersosialisasi melalui jejaring sosial Facebook.

Saat tim yang dikepalai oleh Noa Pinter-Wollman meneliti interaksi antara semut merah (Pogonomyrmex barbatus) yang berada di daerah gurun Amerika Barat Daya, para peneliti menemukan cara berkomunikasi yang unik antara sesama mereka.

Seperti dilansir dari situs Physorg, setiap semut menggunakan sistem sinyal kimiawi untuk berkomunikasi. Molekul-molekul kimia itu dikeluarkan melalui exoskeleton (bagian tubuh keras terluar) mereka dan ditransfer kepada semut-semut sesama koloni, ketika antena mereka menyentuh atau menggosok satu sama lain.

Dengan cara ini, mereka bisa saling berkomunikasi untuk mengetahui dari mana semut-semut itu sebelum bertemu, apa ada sumber makanan yang mereka temukan, atau bahkan adakah predator yang mengancam wilayah itu.

Peneliti membuat sebuah kamar kecil untuk mengukur berapa kali pertukaran informasi mereka lakukan, setiap kali bertemu, atau bagaimana semut yang berlainan koloni berkomunikasi.

Dari rekaman video tersebut, tim riset menggunakan program komputer yang dapat mengenali semut-semut yang diobservasi dan mampu menghitung berapa kali mereka berinteraksi satu sama lain. Penelitian ini merekam sebanyak 4.628 interaksi semut.

Rata-rata, setiap semut melakukan sekitar 40 kali interaksi. Bahkan, sekitar 10 persen dari semut yang diteliti bisa melakukan lebih dari 100 kali kontak dengan semut lain. Riset tersebut juga mengamati alasan-alasan yang membuat semut ini memiliki kecenderungan lebih, dalam kerja sama dan sosialisasi dengan semut lain.

Para peneliti juga membandingkan jenis hubungan sosial yang mereka jalin dengan sistem pertemanan di jejaring sosial Facebook. Ternyata memang terdapat beberapa persamaan. Hasil riset yang telah muncul di Journal of the Royal Society Interface itu, menemukan bahwa tidak semua semut tersebut aktif dalam hubungan sosial mereka.

Seperti halnya karakter-karakter orang di Facebook, ternyata ada beberapa semut yang hanya berkomunikasi dengan beberapa kenalan di jaringan yang lebih kecil. Namun, ada pula semut yang memiliki jaringan yang lebih besar dan berkomunikasi dengan lingkaran yang lebih besar.



Windows 8 Dibuat untuk Saingi iOS

Windows 8 Dibuat untuk Saingi iOS
Beritamandiri Online -Windows 8 memang belum secara resmi diumumkan oleh Microsoft sebagai pengganti kesuksesan Windows 7, namun beberapa analis sudah memprediksi kehadiran sistem operasi ini.

Paling jelas terlihat, tentu saja bahwa Windows 8 nantinya akan dibangun untuk menyaingi iOS milik Apple, yang kini sudah perangkatnya begitu populer di pasaran. Prediksi ini terlihat, karena nampanya OS baru tersebut akan menjadi iterasi baru dengan upaya lintas platform yang dirancang untuk berbagai perangkat.
Dilansir melalui TG Daily, Selasa (12/4/2011), analis Paulus Thurrot dan Rafael River menyebutkan sejumlah fitur baru yang akan datang di Windows 8 akan menjadi versi yang kompatibel untuk smartphone dan tablet.
Bocorannya, akan hadir juga fitur user interface untuk Windows Exporer dan pembaca dokumen yang menggunakan model aplikasi paket yang mirip dengan Windows Phone 7. "Kami menduga, bahwa Windows 8 ini akan terintegarsi juga dengan Windows Phone 8, yang menggunakan kode sandi 'Appolo'," hipotesa keduanya.
Ini tentu sejalan dengan ucapan CEO Microsoft Steve Ballmer, yang menyebutkan bahwa di masa depan Windows akan menjadi sistem operasi yang terhubung dengan semua jenis perangkat apapun.
Bold