Showing posts with label Mitos dan Legenda. Show all posts
Showing posts with label Mitos dan Legenda. Show all posts

Pria Ini Pemegang Kunci Ka’bah

Pria Ini Pemegang Kunci Ka’bah


TEMPO Interaktif, Makkah - Boleh jadi posisi inilah yang diimpikan banyak umat Islam, yakni sebagai pemegang kuncu Ka’bah. Maklum saja, jabatan itu diberikan langsung oleh Nabi Muhammad setelah menguasai Makkah ketika itu.

Setelah menghancurkan semua berhala dalam Ka’bah dan bangunan itu dimandikan, Nabi Muhammad lantas menyerahkan kunci-kunci pintu Ka’bah kepada Usman bin Taha dan Shaibah, sepupu Usman. “Kunci ini akan tetap Anda pegang hingga hari kiamat,” kata Nabi.

Saat ini, kunci Ka'bah itu dipegang oleh keturunan Shaibah, yakni Syekh Abdul Qadir bin Taha al-Shaibi. Ia bertanggung jawab untuk membuka dan menutup pintu Ka'bah serta mencuci bangunan yang dibuat oleh Nabi Ibrahim itu. “Kunci-kunci ini harus dipegang oleh anggota tertua keluarga, jadi bisa saja ke sepupu saya,” kata Syekh Abdul Qadir.

Ia mengatakan Ka’bah dimandikan dua kali saban tahun, yakni pada 15 Muhharam dan permulaan bulan Sya’ban. Acara ini biasanya dihadiri oleh raja Arab Saudi atau Emir Makkah Pangeran Khalid al-Faisal, dan para pejabat senior.

Syekah Abdul Qadir mengatakan lantai Ka’bah dari granit berwarna putih dan sebagian dindingnya juga dilapisi granit. Di dalamnya terdapat sebuah hijab berwarna hijau, emas, perhiasan, dan pintu Tobat. Pintu ini terbuat dari emas dan menuju keatap Ka’bah.

Ia mengungkapkan di dalam Ka’bah terdapat sebuah ubin berwarna gelap yang merupakan tempat Nabi Muhammad meletakkan kepalanya ketika letih. Terdapat pula sejumlah lampu dari zaman Kekaisaran Ottoman terbuat dari tembaga, perak, dan gelas berhiaskan ayat-ayat Al-Quran.

Syekh Abdul Qadir menjelaskan kain penutup Ka’bah (Kiswah) awalnya dibuat di Mesir. Namun setelah kerajaan Arab Saudi berdiri, raja pertama Abdul Aziz membuat pabrik yang memproduksi Kiswah.

Ia menyebutkan tempat tinggal pemegang kunci Ka’bah tadinya di Gunung Safa, dekat Masjid al-Haram. Namun setelah dibongkar akibat proyek perluasan masjid, kediaman Syekh Abdul Qadir dipindah ke kawasan Aziziyah, letaknya lebih jauh dari Ka’bah.

Ia berharao pemerintah memberikan rumah yang jaraknya dekat dengan Ka’bah. “Tahun ini saya menyewa sebuah kamar hotel agar bisa dekat ke Ka’bah. Kami biasa tinggal dekat Ka’bah dan tidak ingin jauh,” ujarnya.







forumvivanews.com

Arti Tahi Lalat yang Terletak Pada Tubuh Kita


Arti Tahi Lalat yang Terletak Pada Tubuh Kita


1. Tahi Lalat di Ujung Mata Kanan/Kiri
Dapat Dipercaya tapi Pendiam

2. Tahi Lalat di Pangkal Hidung
Pandai dan Baik Hati

3. Tahi Lalat di Alis Kanan
Suka Menolong

4. Tahi Lalat di Alis Kiri
Dicintai Banyak Orang

5. Tahi Lalat di Hidung
Banyak Rezeki

6. Tahi Lalat di Hidung Bawah
Pandai Bicara, Banyak rezeki

7. Tahi Lalat di Bibir Atas
Cerdas, Banyak Rezeki

8. Tahi Lalat di Bibir Bawah
Baik Hati

9. Tahi Lalat di Pipi Kanan/Kiri
Dermawan

10. Tahi Lalat di Pipi Tengah
Disukai

11. Tahi Lalat di Ujung Mulut
Pandai Bicara

12. Tahi lalat di Dagu
Pandai Bicara dan Jujur

13. Tahi Lalat di Telinga Kanan
Keras dan Gampang Emosi

14. Tahi Lalat di Telinga Kiri
Pintar dan Jujur

15. Tahi Lalat di Leher Bagian Depan
Bijaksana

16. Tahi Lalat di Leher Bagian Belakang
Kecil Hati, mudah Putus asa

17. Tahi Lalat di Bahu Kanan
Pendiriannya Teguh

18. Tahi Lalat di Bahu Kiri
Pikirannya Selalu Ruwet

19. Tahi Lalat di Buah Dada Kanan/Kiri
Nafsunya Besar

20. Tahi Lalat di Antara Buah Dada
Baik Hati

21. Tahi Lalat di Punggung
Dapat di Percaya

22. Tahi Lalat di tengah Perut (sekitar Pusar)
Dapat di Percaya

23. Tahi Lalat di Pinggang
Jujur dan Tabah

24. Tahi Lalat di Pantat
Sering Menderita

25. Tahi Lalat di Pangkal Paha
Tangkas dan Banyak Rezeki

26. Tahi Lalat di Daerah Kemaluan
Nafsu Besar

27. Tahi Lalat di Lutut Depan
Kuat Berjalan

28. Tahi Lalat di Lutut Sebelah Dalam (Lipatan/belakang lutut)
Hatinya Tidak Tetap

29. Tahi Lalat di Betis
Dapat di Percaya

30. Tahi Lalat di Tulang Kaki Kanan (Tulang Kering)
Pemboros

31. Tahi Lalat di Tulang Kaki Kiri
Pemberani

32. Tahi Lalat di Pergelangan Kaki
Kuat Berjalan

33. Tahi Lalat di Tumit
Tidak dapat di Percaya

34. Tahi Lalat di Jari-Jari Kaki
Suka Bekerja

35. Tahi Lalat di Lengan Kanan/Kiri
Suka Bekerja

36. Tahi Lalat di Telapak Kaki
Baik Hati

37. Tahi Lalat di Telapak Tangan Kanan
Pandai Menyimpan Harta

38. Tahi Lalat di Telapak Tangan Kiri
Pemboros

39. Tahi Lalat di Telapak Belakang
Kuat Kaya

40. Tahi Lalat di Ujung Siku
Baik Hati

41. Tahi lalat di Siku Bagian dalam
Selalu Tabah

42. Tahi Lalat di jari-jari Tangan
Banyak Rezeki

43. Tahi Lalat di Pergelangan Tangan
Pemboros
44. Tahi Lalat di Ubun – Ubun
Tamak akan harta benda, Jahat, dan Jahil

45. Tahi Lalat di Unyeng – Unyeng (Puser di kepala)
Pendiam tapi Banyak Akal dan Cerdas

46. Tahi Lalat di Kepala Bagian Belakang
Dapat di Percaya, Pemberani, dan Sabar

47. Tahi Lalat di Kepala Sebelah Kiri
Wataknya Buruk

48. Tahi Lalat di Dahi Kanan atau Kiri
Kepribadiannya Jelek

49. Tahi Lalat di Tengah- Tengah Dahi (Jidat)
Pandai dan Baik Hati

50. Tahi Lalat di Pelipis Kanan/Kiri
Banyak Rezeki

51. Tahi Lalat di Kelopak Mata Atas Kanan/Kiri
Pandai Membawa Diri

52. Tahi Lalat di Kelopak Mata Bawah Kanan/Kiri
Sering Menderita

53. Tahi Lalat di Kepala Sebelah Kanan
Banyak Rezeki

Tradisi Tato Tertua Di Dunia Ternyata Berasal Dari Indonesia




Istilah "Tattoo" diambil dari kata "Tatau" dalam bahasa Tahiti. Tato pertama kali tercatat di peradaban Barat dalam ekspedisi James Cook pada tahun 1769. Menurut beberapa peneliti, tato tertua ditemukan pada mumi Mesir dari abad 20 SM. Namun, tato Mesir, yang diperkirakan tato tertua yang ditemukan pada 1300 SM ternyata tidaklah benar coz. suku Mentawai sudah menato tubuh mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam, 1500 SM - 500 SM. Proto-bangsa Melayu tersebut berasal dari daratan Asia (Indocina).

Tattoo Mentawai adalah yang tertua di dunia yang dikenal sebagai Titi. Bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Salah satu posisi tato adalah untuk menunjukkan identitas dan perbedaan status sosial atau profesi. Sebagai contoh, Tato Sikerei (dukun) berbeda dengan pemburu tato. Pemburu dikenal dengan gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, monyet, burung, atau buaya. sementara Sikerei diketahui dari tato bintang "Sibalu-balu" dalam tubuh mereka. Berdasarkan tradisi Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam tradisi orang Mentawai, objek seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di dalam tubuh mereka. Mereka menganggap semua hal memiliki jiwa. Fungsi lain dari tato adalah seni, orang Mentawai tato tubuh mereka sesuai dengan kreativitasnya.

Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, hal itu disebut “Arat Sabulungan". Istilah ini berasal dari kata "sa" (koleksi), dan "bulung" (daun). Kumpulan daun yang disusun dalam sebuah lingkaran yang terbuat dari kelapa atau pucuk pohon sagu, yang diyakini memiliki kekuatan magis yang disebut "Kere" atau "Ketse". Ini digunakan sebagai media untuk pemujaan terhadap "Tai Kabagat Koat" (Dewa Laut), "Tai Ka-leleu" (Dewa dari hutan dan gunung), dan "Tai Ka Manua" (Dewa dari awan)."Arat Sabulungan" digunakan dalam setiap upacara, kelahiran, pernikahan, medis, pindah rumah, dan tato ketika anak laki-laki memasuki usia pubertas, yakni usia 11-12 tahun. Orang tua disebut Sikerei dan Rimata (kepala suku). Mereka akan bernegosiasi untuk menentukan hari dan bulan pelaksanaan tato.

Setelah itu, dipilih "Sipatiti" artis (tato). Sipatiti tidak didasarkan pada penunjukan jabatan publik, seperti dukun atau kepala suku, tetapi profesi laki-laki keahlian Sipatiti itu harus dibayar dengan seekor babi. Sebelum proses penatatoan dilakukan, diatur upacara pertama dipimpin oleh Sikerei. Tubuh anak laki-laki yang akan tato digambar dengan tongkat. Sketsa pada tubuh kemudian ditusuk dengan jarum kayu-ditangani. tubuh anak perlahan-lahan dipukul dengan tongkat kayu untuk memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang digunakan adalah campuran daun pisang dan arang tempurung.

Tradisi Tato Tertua Di Dunia Ternyata Berasal Dari Indonesia




Istilah "Tattoo" diambil dari kata "Tatau" dalam bahasa Tahiti. Tato pertama kali tercatat di peradaban Barat dalam ekspedisi James Cook pada tahun 1769. Menurut beberapa peneliti, tato tertua ditemukan pada mumi Mesir dari abad 20 SM. Namun, tato Mesir, yang diperkirakan tato tertua yang ditemukan pada 1300 SM ternyata tidaklah benar coz. suku Mentawai sudah menato tubuh mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada Zaman Logam, 1500 SM - 500 SM. Proto-bangsa Melayu tersebut berasal dari daratan Asia (Indocina).

Tattoo Mentawai adalah yang tertua di dunia yang dikenal sebagai Titi. Bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Salah satu posisi tato adalah untuk menunjukkan identitas dan perbedaan status sosial atau profesi. Sebagai contoh, Tato Sikerei (dukun) berbeda dengan pemburu tato. Pemburu dikenal dengan gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, monyet, burung, atau buaya. sementara Sikerei diketahui dari tato bintang "Sibalu-balu" dalam tubuh mereka. Berdasarkan tradisi Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam tradisi orang Mentawai, objek seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di dalam tubuh mereka. Mereka menganggap semua hal memiliki jiwa. Fungsi lain dari tato adalah seni, orang Mentawai tato tubuh mereka sesuai dengan kreativitasnya.

Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, hal itu disebut “Arat Sabulungan". Istilah ini berasal dari kata "sa" (koleksi), dan "bulung" (daun). Kumpulan daun yang disusun dalam sebuah lingkaran yang terbuat dari kelapa atau pucuk pohon sagu, yang diyakini memiliki kekuatan magis yang disebut "Kere" atau "Ketse". Ini digunakan sebagai media untuk pemujaan terhadap "Tai Kabagat Koat" (Dewa Laut), "Tai Ka-leleu" (Dewa dari hutan dan gunung), dan "Tai Ka Manua" (Dewa dari awan)."Arat Sabulungan" digunakan dalam setiap upacara, kelahiran, pernikahan, medis, pindah rumah, dan tato ketika anak laki-laki memasuki usia pubertas, yakni usia 11-12 tahun. Orang tua disebut Sikerei dan Rimata (kepala suku). Mereka akan bernegosiasi untuk menentukan hari dan bulan pelaksanaan tato.

Setelah itu, dipilih "Sipatiti" artis (tato). Sipatiti tidak didasarkan pada penunjukan jabatan publik, seperti dukun atau kepala suku, tetapi profesi laki-laki keahlian Sipatiti itu harus dibayar dengan seekor babi. Sebelum proses penatatoan dilakukan, diatur upacara pertama dipimpin oleh Sikerei. Tubuh anak laki-laki yang akan tato digambar dengan tongkat. Sketsa pada tubuh kemudian ditusuk dengan jarum kayu-ditangani. tubuh anak perlahan-lahan dipukul dengan tongkat kayu untuk memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang digunakan adalah campuran daun pisang dan arang tempurung.

Kisah Puteri Duyung Misterius, Legenda atau Nyata

legenda puteri duyungAda banyak kisah duyung dari Jepang, namun kisah yang satu ini berbasis pada legenda kuno 1.400 tahun lalu. Satu kisah yang berasal dari kisah kepercayaan Shinto di Kota Fujinomiya dekat kaki Gunung Fuji, Jepang.

Tidak diketahui pasti apakah legenda soal duyung berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun berdasarkan telaah ilmiah di beberapa perairan yang di masa lalu duyung sering dikisahkan, justru memang dihuni hewan-hewan spesial. Beberapa hewan spesial itu hingga kini masih hidup di perairan tawar atau asin. Hewan-hewan inilah yang sering disalahtafsirkan sebagai duyung. Mungkin karena kebiasaan hidupnya, bentuknya dan performanya yang memang mirip.

Apalagi bila dilihat dari kejauhan. Hewan-hewan ini dikenal sebagai “dugong“, “manatee” dan “sapi laut (sea cow)”. Ketiga spesies ini memiliki bentuk tubuh yang mirip, namun hidup di lingkungan perairan yang berbeda. Tergolong sebagai mamalia yang suka menyusui dan berjemur di batu karang dan tepi-tepi perairan, atau mengeluh dan bersuara lantang.

Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan. Bisa ditemukan di perairan dangkal kawasan pantai India, Pasifik Selatan (dari wilayah pantai timur Afrika sampai utara Australia), perairan pantai Papua, dan kepulauan lain di Pasifik. Dugong berwarna cokelat kelabu, tubuhnya sepanjang 2,7 meter dan mampu hidup sampai usia 70 tahun. Manatee.
legenda puteri duyung

Ada tiga jenis manatee yang sudah dikenal. Ada yang hidup di perairan Karibia dan sepanjang pantai tenggara Amerika Selatan. Ada yang di sepanjang perairan pantai dan muara sungai Florida (AS), dan jenis ketiga yang hidup di perairan tawar sungai Amazon. Manatee ini ada yang hidup di air tawar dan air asin. Warna manatee kelabu, dengan ukuran panjang tubuh 4 meter.

Sapi Laut (sea cow). Pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada tahun 1741 di dekat Pulau Commander di Laut Bering. Sapi laut biasanya suka hidup di perairan dangkal dekat pantai. Ukuran tubuhnya bisa sepanjang 7,6 meter dan warnanya kelabu kecokelatan dengan pola polkadot samar. Ketiga hewan air yang menyusui anaknya ini termasuk dalam kelompok ordo (grup) hewan mamalia air yang disebut Sirenia.

Penamaan kelompok mamalia air ini dibuat para ilmuwan berdasarkan kepercayaan kuno (mitologi) bahwa hewan-hewan sirenia inilah yang dulu diyakini para pelaut sebagai sirens atau duyung. Duyung pertama kali muncul dalam mitologi di Assyria (1000 SM).

Atargatis, ibu dari ratu Assyria, Semiramis, adalah dewi yang mencintai seorang gembala namun kemudian ia membunuhnya karena cintanya ditolak. Merasa malu ia melompat ke dalam danau dan berubah menjadi ikan. Dalam transformasi menebus malu itu ia berubah menjadi duyung. Lalu pada masa 500 SM, kisah duyung terdengar lagi dari seorang filsuf dari Ionia (wilayah Yunani) bernama Anaximander.

Ia berpendapat bahwa manusia berasal dari satu spesies hewan air. Teori ini kemudian disebut sebagai evolusi hewan air ke manusia. Pendapatnya ini dianggap sebagai pembenaran bahwa duyung adalah hewan air yang sedang berevolusi menjadi manusia. Begitu populernya duyung ini, sehingga tercantum dalam perkamen dan naskah-naskah tua. Bahwa dalam catatan Alexander the Great, sang penguasa Macedonia, (356-323 SM) kisah duyung juga terselip di sana.

Saudara perempuan Alexander bernama Thessalonike disebutkan berubah menjadi duyung setelah kematiannya. Legenda dan kisah duyung ini tersebar ke mana-mana. Dikisahkan oleh para pelaut dan penjelajah samudera. Umumnya duyung digambarkan sebagai perempuan cantik berekor ikan, berambut panjang, bersuara merdu, suka berjemur di karang dan tepi pantai. Namun tak ada bukti pasti mengenai eksistensinya.
legenda puteri duyung

Kecuali yang tertinggal dalam bentuk sketsa kuno dan tergambar di mata uang kaum Corinthian (Yunani). Namun ada sebuah buku bertahun 1718 yang terbit di Amsterdam Belanda, yang mengupas soal kehidupan aneka satwa di Samudera Hindia. Buku ini dilengkapi artikel deskripsi, aneka sketsa dan gambar.

Dalam buku ini ada satu catatan detail soal duyung : “Ada monster berwujud wanita setengah ikan, tertangkap di perairan Amboyna (gugus kepulauan Maluku, Indonesia). Berdasarkan pengukuran memiliki tubuh sepanjang 59 inci (147,5 cm), bentuknya mirip belut laut (moa). Makhluk ini hanya bertahan hidup selama 103 jam (4,5 hari) setelah ditangkap, dan mati di akuarium. Selama pengurungan diberi makan ikan-ikan kecil dan hasil laut lainnya, namun ia tidak merespons makanan tersebut.”

Agaknya duyung memang masih misteri. Dipercaya ada, namun bukti yang terlihat sampai kini tak pernah pasti soal wujud duyung yang ada di legenda. Para ahli bahkan menyimpulkan bahwa kemungkinan duyung itu adalah mamalia air yang dikenal sebagai dugong, manatee dan sea cow (Sapi laut), yang disalahtafsir oleh pelaut masa lalu.

Kisah Puteri Duyung Misterius, Legenda atau Nyata

legenda puteri duyungAda banyak kisah duyung dari Jepang, namun kisah yang satu ini berbasis pada legenda kuno 1.400 tahun lalu. Satu kisah yang berasal dari kisah kepercayaan Shinto di Kota Fujinomiya dekat kaki Gunung Fuji, Jepang.

Tidak diketahui pasti apakah legenda soal duyung berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun berdasarkan telaah ilmiah di beberapa perairan yang di masa lalu duyung sering dikisahkan, justru memang dihuni hewan-hewan spesial. Beberapa hewan spesial itu hingga kini masih hidup di perairan tawar atau asin. Hewan-hewan inilah yang sering disalahtafsirkan sebagai duyung. Mungkin karena kebiasaan hidupnya, bentuknya dan performanya yang memang mirip.

Apalagi bila dilihat dari kejauhan. Hewan-hewan ini dikenal sebagai “dugong“, “manatee” dan “sapi laut (sea cow)”. Ketiga spesies ini memiliki bentuk tubuh yang mirip, namun hidup di lingkungan perairan yang berbeda. Tergolong sebagai mamalia yang suka menyusui dan berjemur di batu karang dan tepi-tepi perairan, atau mengeluh dan bersuara lantang.

Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan. Bisa ditemukan di perairan dangkal kawasan pantai India, Pasifik Selatan (dari wilayah pantai timur Afrika sampai utara Australia), perairan pantai Papua, dan kepulauan lain di Pasifik. Dugong berwarna cokelat kelabu, tubuhnya sepanjang 2,7 meter dan mampu hidup sampai usia 70 tahun. Manatee.
legenda puteri duyung

Ada tiga jenis manatee yang sudah dikenal. Ada yang hidup di perairan Karibia dan sepanjang pantai tenggara Amerika Selatan. Ada yang di sepanjang perairan pantai dan muara sungai Florida (AS), dan jenis ketiga yang hidup di perairan tawar sungai Amazon. Manatee ini ada yang hidup di air tawar dan air asin. Warna manatee kelabu, dengan ukuran panjang tubuh 4 meter.

Sapi Laut (sea cow). Pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada tahun 1741 di dekat Pulau Commander di Laut Bering. Sapi laut biasanya suka hidup di perairan dangkal dekat pantai. Ukuran tubuhnya bisa sepanjang 7,6 meter dan warnanya kelabu kecokelatan dengan pola polkadot samar. Ketiga hewan air yang menyusui anaknya ini termasuk dalam kelompok ordo (grup) hewan mamalia air yang disebut Sirenia.

Penamaan kelompok mamalia air ini dibuat para ilmuwan berdasarkan kepercayaan kuno (mitologi) bahwa hewan-hewan sirenia inilah yang dulu diyakini para pelaut sebagai sirens atau duyung. Duyung pertama kali muncul dalam mitologi di Assyria (1000 SM).

Atargatis, ibu dari ratu Assyria, Semiramis, adalah dewi yang mencintai seorang gembala namun kemudian ia membunuhnya karena cintanya ditolak. Merasa malu ia melompat ke dalam danau dan berubah menjadi ikan. Dalam transformasi menebus malu itu ia berubah menjadi duyung. Lalu pada masa 500 SM, kisah duyung terdengar lagi dari seorang filsuf dari Ionia (wilayah Yunani) bernama Anaximander.

Ia berpendapat bahwa manusia berasal dari satu spesies hewan air. Teori ini kemudian disebut sebagai evolusi hewan air ke manusia. Pendapatnya ini dianggap sebagai pembenaran bahwa duyung adalah hewan air yang sedang berevolusi menjadi manusia. Begitu populernya duyung ini, sehingga tercantum dalam perkamen dan naskah-naskah tua. Bahwa dalam catatan Alexander the Great, sang penguasa Macedonia, (356-323 SM) kisah duyung juga terselip di sana.

Saudara perempuan Alexander bernama Thessalonike disebutkan berubah menjadi duyung setelah kematiannya. Legenda dan kisah duyung ini tersebar ke mana-mana. Dikisahkan oleh para pelaut dan penjelajah samudera. Umumnya duyung digambarkan sebagai perempuan cantik berekor ikan, berambut panjang, bersuara merdu, suka berjemur di karang dan tepi pantai. Namun tak ada bukti pasti mengenai eksistensinya.
legenda puteri duyung

Kecuali yang tertinggal dalam bentuk sketsa kuno dan tergambar di mata uang kaum Corinthian (Yunani). Namun ada sebuah buku bertahun 1718 yang terbit di Amsterdam Belanda, yang mengupas soal kehidupan aneka satwa di Samudera Hindia. Buku ini dilengkapi artikel deskripsi, aneka sketsa dan gambar.

Dalam buku ini ada satu catatan detail soal duyung : “Ada monster berwujud wanita setengah ikan, tertangkap di perairan Amboyna (gugus kepulauan Maluku, Indonesia). Berdasarkan pengukuran memiliki tubuh sepanjang 59 inci (147,5 cm), bentuknya mirip belut laut (moa). Makhluk ini hanya bertahan hidup selama 103 jam (4,5 hari) setelah ditangkap, dan mati di akuarium. Selama pengurungan diberi makan ikan-ikan kecil dan hasil laut lainnya, namun ia tidak merespons makanan tersebut.”

Agaknya duyung memang masih misteri. Dipercaya ada, namun bukti yang terlihat sampai kini tak pernah pasti soal wujud duyung yang ada di legenda. Para ahli bahkan menyimpulkan bahwa kemungkinan duyung itu adalah mamalia air yang dikenal sebagai dugong, manatee dan sea cow (Sapi laut), yang disalahtafsir oleh pelaut masa lalu.

Kisah Puteri Duyung Misterius, Legenda atau Nyata

legenda puteri duyungAda banyak kisah duyung dari Jepang, namun kisah yang satu ini berbasis pada legenda kuno 1.400 tahun lalu. Satu kisah yang berasal dari kisah kepercayaan Shinto di Kota Fujinomiya dekat kaki Gunung Fuji, Jepang.

Tidak diketahui pasti apakah legenda soal duyung berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun berdasarkan telaah ilmiah di beberapa perairan yang di masa lalu duyung sering dikisahkan, justru memang dihuni hewan-hewan spesial. Beberapa hewan spesial itu hingga kini masih hidup di perairan tawar atau asin. Hewan-hewan inilah yang sering disalahtafsirkan sebagai duyung. Mungkin karena kebiasaan hidupnya, bentuknya dan performanya yang memang mirip.

Apalagi bila dilihat dari kejauhan. Hewan-hewan ini dikenal sebagai “dugong“, “manatee” dan “sapi laut (sea cow)”. Ketiga spesies ini memiliki bentuk tubuh yang mirip, namun hidup di lingkungan perairan yang berbeda. Tergolong sebagai mamalia yang suka menyusui dan berjemur di batu karang dan tepi-tepi perairan, atau mengeluh dan bersuara lantang.

Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan. Bisa ditemukan di perairan dangkal kawasan pantai India, Pasifik Selatan (dari wilayah pantai timur Afrika sampai utara Australia), perairan pantai Papua, dan kepulauan lain di Pasifik. Dugong berwarna cokelat kelabu, tubuhnya sepanjang 2,7 meter dan mampu hidup sampai usia 70 tahun. Manatee.
legenda puteri duyung

Ada tiga jenis manatee yang sudah dikenal. Ada yang hidup di perairan Karibia dan sepanjang pantai tenggara Amerika Selatan. Ada yang di sepanjang perairan pantai dan muara sungai Florida (AS), dan jenis ketiga yang hidup di perairan tawar sungai Amazon. Manatee ini ada yang hidup di air tawar dan air asin. Warna manatee kelabu, dengan ukuran panjang tubuh 4 meter.

Sapi Laut (sea cow). Pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada tahun 1741 di dekat Pulau Commander di Laut Bering. Sapi laut biasanya suka hidup di perairan dangkal dekat pantai. Ukuran tubuhnya bisa sepanjang 7,6 meter dan warnanya kelabu kecokelatan dengan pola polkadot samar. Ketiga hewan air yang menyusui anaknya ini termasuk dalam kelompok ordo (grup) hewan mamalia air yang disebut Sirenia.

Penamaan kelompok mamalia air ini dibuat para ilmuwan berdasarkan kepercayaan kuno (mitologi) bahwa hewan-hewan sirenia inilah yang dulu diyakini para pelaut sebagai sirens atau duyung. Duyung pertama kali muncul dalam mitologi di Assyria (1000 SM).

Atargatis, ibu dari ratu Assyria, Semiramis, adalah dewi yang mencintai seorang gembala namun kemudian ia membunuhnya karena cintanya ditolak. Merasa malu ia melompat ke dalam danau dan berubah menjadi ikan. Dalam transformasi menebus malu itu ia berubah menjadi duyung. Lalu pada masa 500 SM, kisah duyung terdengar lagi dari seorang filsuf dari Ionia (wilayah Yunani) bernama Anaximander.

Ia berpendapat bahwa manusia berasal dari satu spesies hewan air. Teori ini kemudian disebut sebagai evolusi hewan air ke manusia. Pendapatnya ini dianggap sebagai pembenaran bahwa duyung adalah hewan air yang sedang berevolusi menjadi manusia. Begitu populernya duyung ini, sehingga tercantum dalam perkamen dan naskah-naskah tua. Bahwa dalam catatan Alexander the Great, sang penguasa Macedonia, (356-323 SM) kisah duyung juga terselip di sana.

Saudara perempuan Alexander bernama Thessalonike disebutkan berubah menjadi duyung setelah kematiannya. Legenda dan kisah duyung ini tersebar ke mana-mana. Dikisahkan oleh para pelaut dan penjelajah samudera. Umumnya duyung digambarkan sebagai perempuan cantik berekor ikan, berambut panjang, bersuara merdu, suka berjemur di karang dan tepi pantai. Namun tak ada bukti pasti mengenai eksistensinya.
legenda puteri duyung

Kecuali yang tertinggal dalam bentuk sketsa kuno dan tergambar di mata uang kaum Corinthian (Yunani). Namun ada sebuah buku bertahun 1718 yang terbit di Amsterdam Belanda, yang mengupas soal kehidupan aneka satwa di Samudera Hindia. Buku ini dilengkapi artikel deskripsi, aneka sketsa dan gambar.

Dalam buku ini ada satu catatan detail soal duyung : “Ada monster berwujud wanita setengah ikan, tertangkap di perairan Amboyna (gugus kepulauan Maluku, Indonesia). Berdasarkan pengukuran memiliki tubuh sepanjang 59 inci (147,5 cm), bentuknya mirip belut laut (moa). Makhluk ini hanya bertahan hidup selama 103 jam (4,5 hari) setelah ditangkap, dan mati di akuarium. Selama pengurungan diberi makan ikan-ikan kecil dan hasil laut lainnya, namun ia tidak merespons makanan tersebut.”

Agaknya duyung memang masih misteri. Dipercaya ada, namun bukti yang terlihat sampai kini tak pernah pasti soal wujud duyung yang ada di legenda. Para ahli bahkan menyimpulkan bahwa kemungkinan duyung itu adalah mamalia air yang dikenal sebagai dugong, manatee dan sea cow (Sapi laut), yang disalahtafsir oleh pelaut masa lalu.